Pria Makin Muak dengan Drama, Makin Ribut Makin Tak Dianggap dan Didiamkan

Cerita MedanTalk

Cerita Medan Talk : Pria Makin Muak dengan Drama, Makin Ribut Makin Tak Dianggap dan Didiamkan

Fenomena kejenuhan terhadap drama sosial kian terasa di kalangan pria, khususnya dalam menghadapi konflik yang berlarut dan penuh emosi. Banyak pria kini memilih sikap diam sebagai respons utama. Semakin ribut sebuah drama, semakin besar kemungkinan untuk tidak dianggap dan dibiarkan berlalu.

Sikap ini muncul sebagai bentuk kelelahan mental terhadap konflik yang dinilai tidak membawa solusi. Drama dianggap hanya membuang energi, memancing emosi, dan kerap berakhir tanpa kejelasan. Alih-alih terlibat, diam dipilih sebagai cara menjaga ketenangan dan fokus.

“Kalau sudah terlalu ribut, justru tidak menarik untuk ditanggapi. Diam itu bukan kalah, tapi memilih waras,” ujar seorang pria pekerja swasta berusia 30-an.
Pengamat komunikasi menilai, sikap mengabaikan drama merupakan strategi sosial yang semakin lazim.

Dengan tidak memberi reaksi, konflik kehilangan panggung dan perlahan meredup. Perhatian tidak lagi diberikan pada siapa yang paling keras bersuara, melainkan pada persoalan yang benar-benar penting.

Namun, pilihan untuk diam kerap disalahartikan sebagai sikap dingin atau tidak peduli. Padahal, bagi banyak pria, diam adalah bentuk kontrol diri dan batasan emosional. Mereka memilih menyeleksi konflik, bukan menghindarinya tanpa alasan.

Di tengah ruang publik yang semakin bising, kecenderungan ini menandai perubahan cara pria menghadapi drama. Bukan dengan perlawanan terbuka, melainkan dengan sikap tenang: makin ribut, makin tak dianggap, dan akhirnya didiamkan.

Gimana menurut kamu?

Pria Makin Muak dengan Drama, Makin Ribut Makin Tak Dianggap dan Didiamkan

Fenomena kejenuhan terhadap drama sosial kian terasa di kalangan pria, khususnya dalam menghadapi konflik yang berlarut dan penuh emosi. Banyak pria kini memilih sikap diam sebagai respons utama. Semakin ribut sebuah drama, semakin besar kemungkinan untuk tidak dianggap dan dibiarkan berlalu.

Sikap ini muncul sebagai bentuk kelelahan mental terhadap konflik yang dinilai tidak membawa solusi. Drama dianggap hanya membuang energi, memancing emosi, dan kerap berakhir tanpa kejelasan. Alih-alih terlibat, diam dipilih sebagai cara menjaga ketenangan dan fokus.

“Kalau sudah terlalu ribut, justru tidak menarik untuk ditanggapi. Diam itu bukan kalah, tapi memilih waras,” ujar seorang pria pekerja swasta berusia 30-an.
Pengamat komunikasi menilai, sikap mengabaikan drama merupakan strategi sosial yang semakin lazim.

Dengan tidak memberi reaksi, konflik kehilangan panggung dan perlahan meredup. Perhatian tidak lagi diberikan pada siapa yang paling keras bersuara, melainkan pada persoalan yang benar-benar penting.

Namun, pilihan untuk diam kerap disalahartikan sebagai sikap dingin atau tidak peduli. Padahal, bagi banyak pria, diam adalah bentuk kontrol diri dan batasan emosional. Mereka memilih menyeleksi konflik, bukan menghindarinya tanpa alasan.

Di tengah ruang publik yang semakin bising, kecenderungan ini menandai perubahan cara pria menghadapi drama. Bukan dengan perlawanan terbuka, melainkan dengan sikap tenang: makin ribut, makin tak dianggap, dan akhirnya didiamkan.

Gimana menurut kamu?

Browse berita / cerita Medan sesuai hashtags >> medan cerita medantalk

Silakan cek cerita dan update terbaru di menu HARI INI , link ada diatas
Follow Instagram @medantalk untuk berita yang di ceritakan di Medan terkini yang tidak diposting ke web
Untuk informasi Lowongan Kerja , cek web www.KarirGram.com dan IG @KarirGram
Untuk cerita Medan terkini, cek www.MedanKu.com dan IG @MedanKu
Untuk informasi tips Otomotif cek www.otomtalk.com dan IG @Otomtalk
Powered by Webhosting Terjamin

Sumber: https://www.instagram.com/p/DUHsY-ekmgE/